How You Supposedly React To a “Drama”?

I joked about suicide as a coping mechanism. It makes it not real and it’s a form of denial for me. Sometimes it was a small cry for help. But when others treat it like it really is just a joke… it hurts. What can i do to restrain myself when others obviously agrees with the voices inside my head?

[7/6, 21:35] me: mending gua lompat dari jembatan juanda
[7/6, 21:35] d: Silahkan
[7/6, 21:35] d: Tp bilang disini dulu
[7/6, 21:35] c: Live ig sekalian
[7/6, 21:35] d: Jd gua bisa saksikan secara live :v
[7/6, 21:36] c: Hapenya pake case anti crack
[7/6, 21:36] ‪b‬: Sip gw rekamin sapa tau laku dijual
[7/6, 21:36] ‪a: lu klo mau bunuh diri live bilang
[7/6, 21:36] ‪a‬: nanti abis mati hpnya gua ambil

that’s legit what they said

Continue reading

Too Much Love

 

 

 

 

June 23rd, 1989 my mom was in between life and death. To bring me to this world. 28 years of my life I can only say thank you which I know it’s never enough and never worth anything compare to her hardship. All of my 28 years I don’t do or give her good. But what I realise the most now, I get much more than I deserve. Too much love from Allah and people around me. What to sigh? :”)

Continue reading

Get Hopes Up

get your hope up:
“to make you think that what you want is going to happen.”
Usage notes: usually said when something is not likely to happen

That’s what the dictionary said. Well, basically it should wake me up from daydreaming.

Sebelum semuanya nampak nyata ya bersabar. Be patient and keep praying.

Now you know the keyword. What’s with the worry?

Be patient,, let’s breathe and smile more often. :))

Don’t be the victim of your own mind, dear!

Love yourself and let the world feel your love so they will love you back.

Bangkit dari Kecewa

​#sepekanbercerita hari kedua. The big question is: bagaimana bangkit dari kekecewaan dan kegagalan yang pernah kita alami?

Apakah saya pernah kecewa? Well, life’s never been easy for me. Waktu kecil kita semua selalu di encourage untuk selalu punya cita-cita setinggi langit. Diberi tahu bahwa punya mimpi harus besar supaya bisa jadi “orang” nantinya. Tapi lalu seiring berjalannya waktu hidup tidak selalu memihak kita. Harus mengalami kenyataan pahit bahwa keluarga tidak bisa men-support financially untuk saya merasakan pendidikan yang lebih tinggi mematahkan semangat dan harapan saya. Semua cita-cita yang sudah saya pupuk dari kecil tiba-tiba tidak tahu harus diarahkan ke mana. I stumbled upon my own dream. Tumbuh di lingkungan yang mempunyai pola sekolah-kerja-menikah membuat saya bimbang dan tidak tahu harus bertanya pada siapa.

Singkat cerita, saya menjadi sangat tertekan dan depresi. Setelah lulus SMA saya menyerah dan tidak mau melakukan apapun. Saya menarik diri dari kehidupan sosial sama sekali. Kurang lebih selama dua tahun saya hanya meratapi nasib tanpa ada keinginan untuk move on. Hingga suatu hari saya dipaksa berpikir oleh kebutuhan untuk hidup. Saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi karena sulit jika masih terus mengandalkan orang tua. Saya mulai bekerja menjadi operator produksi di salah satu perusahaan elektronik.

.

Untuk bekerja di sana pun tidak mudah, banyak interview saya lewati, banyak soal psikotes saya kerjakan. Diantaranya benar-benar menyakiti hati saya. Pernah saya interview untuk satu perusahaan mereka “mencela” kelemahan mata saya yang memang minus dengan mengatakan “coba dibuka kacamatanya bisa lihat gak?” Padahal sudah dengan sangat jelas saya katakan bahwa saya minus sepuluh. Lalu pernah juga ada seorang pewawancara mengatakan “kamu kan cuma lulusan SMA, kamu gak bisa jadi apa-apa kecuali operator produksi.” 

Perih rasanya hati ini, karena saya yakin saya punya kemampuan lebih di dalam diri saya. Disitu saya bertekad untuk kuliah lagi dan berusaha membuktikan bahwa saya benar-benar mampu meraih mimpi dan cita-cita yang sudah lama saya kubur. Dengan tangan saya sendiri. Akhirnya setelah beberapa bulan bekerja saya memutuskan untuk mendaftarkan diri saya di salah satu kampus swasta di Purwakarta. Nekat memang dengan gaji hanya di kisaran satu setengah juta saat itu. Saya berpikir lebih baik gak jajan daripada saya terus-terusan dihina orang.

Semasa sekolah saya selalu percaya saya mempunyai rekor baik di bidang akademis. Tapi kuliah sambil bekerja bukan hal mudah ternyata. Saya harus berjuang super keras. Karena tingkat kepedean super yang saya punya, saya coba apply untuk posisi staff di suatu perusahaan. Marketing staff judul posisinya. Dengan modal excel tingkat dasar dan bahasa Inggris pas-pasan saya berhasil diterima bekerja di sana. Perusahaan super aneh yang hampir bangkrut. Tapi justru di situ saya banyak belajar hal yang selama ini cuma saya dapat teorinya dari kampus. Banyak ilmu saya dapatkan yang akhirnya menjadi modal awal saya untuk terus jadi kutu loncat pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. 

Andaikan waktu itu mereka tidak mencela saya, andaikan waktu itu saya mudah meraih mimpi saya, mungkin saya tidak pernah tahu rasanya berjuang. Mungkin saya tidak pernah tahu nikmatnya memanen sesuatu yang kita mulai benar-benar dari nol. Orang boleh bilang apapun tentang diri kita, tapi ketika kita yakin bahwa kita berharga dan layak dapat lebih baik maka otomatis kita akan bergerak ke arah yang baik. Memantaskan diri. 

Ketika hasil tidak sesuai harapan, maka kita tahu harus mulai dari mana lagi. Karena ketika sekali merasakan kerasnya berjuang maka yang kedua tidak lagi sulit. Minimal kita sudah tahu rute menuju jalan yang baik.

Di bus menuju Purwakarta

18-01-2016

Kind Of No Bullshit Guy

If you’re a no bullshit kind of guy, find yourself a no bullshit kind of woman. And together you guys can build a super strong no bullshit kind of life and get things done. -Elliott Hulse-

Sepanjang perjalanan pulang menuju Purwakarta tadi banyak insight baru yang aku dapat. Tentang what kind of guy I want to spend my life with…. 

Laki-laki yang visioner, tahu apa yang akan dilakukannya di masa depan. Bukan laki-laki yang menjawab “jalanin saja dulu” ketika ditanya apa yang akan dilakukannya di masa depan.

Laki-laki yang memintaku mendukungnya, mendoakannya, memberinya saran, bahkan ketika hanya berdoa dan menyemangatinya yang bisa ku lakukan.

Laki-laki yang membuatku merasakan bahwa aku memang dibutuhkan dalam hidupnya. Membangun mimpinya di masa depan bersama-sama bukan hanya sebagai pemanis di hidupnya.

Laki-laki yang untuknya aku rela menyiapkan makanan hangat di akhir penat harinya setelah lelah bekerja.

Laki-laki yang bersamanya aku bersedia ada di bawah ataupun di atas. Karena dengan doa-doa dan keyakinan pada Tuhan-Nya aku tahu dia berusaha.

Laki-laki yang tahu bahwa bahwa yang penting kerjasama, karena kalau sendiri percuma. 

Laki-laki yang selalu bisa bicara hal terkecil sampai terbesar padaku, karena dia percaya.

Aku tahu dia ada. 

Tuhan hanya ingin aku menunggu.

Saat yang tepat.

-26122016-