Find Someone You Can Relate

If you knew everyone’s story, you would love them. You can’t really hate someone if you know everything that happened to them between their birth and now; why they became the way they became; why they have walls up or down. If you truly know someone, you’d get it. -Emma Stone-

I wish I could tell you all of my stories. Tapi, bukan hal yang mudah untuk bisa terbuka pada semua orang. Kenapa? Well, orang bilang ketika kita curhat mengenai diri kita atau masalah yang kita hadapi kita hanya butuh didengarkan, bukan solusi. Hmm,, ada benarnya sih tapi gue pribadi lebih suka mereka tetap kasih saran untuk solusi dari cerita tersebut. Satu, itu menunjukkan si pendengar peduli. Dua, sebagai orang yang sedang cari ketenangan hati akan sangat bahagia ketika menemukan orang yang kita rasa relate sama cerita kita. Benar gak?

Ketika, misal kita cerita tentang hal A lalu kita merasa susah banget nih hidup gue (rata-rata orang lagi curhat ngerasa dia paling susah di dunia :p) terus orang yang kita curhatin jawabnya “Ah, enggak kok biasa aja.” atau “Ah, dramatisir banget si lo.”

Jeng,, jeng!!

Sadar atau enggak itu kadang bikin orang yang curhat makin sebel. Padahal apa susahnya ya sedikit kasih saran basa basi, “coba kamu gini”, “coba kamu gitu” syukur-syukur itu sesuai bidang yang kamu kuasai bisa langsung kasih solusi aplikatif.

Terus dalam hal mencari someone you can relate ini juga berlaku untuk hal lain selain partner curhat. Yang akhir-akhir ini ganggu banget itu ya partner berorganisasi. Either organisasi pekerjaan ataupun sosial. Seriously people you need to learn how to communicate and express your feeling in a right way. Ketika kalian merasa ada hal yang janggal, coba komunikasikan terlebih dahulu dengan orang terkait. Dengan cara yang baik tentunya. Setiap orang berhak tahu apa kesalahan atau kekurangan mereka. Ketika kalian sudah sampaikan itu dan orang tersebut gak bisa nerima that’s their problem. Dan jika kamu merasa itu merugikan kamu, leave them alone. Gak usah temenan lagi sama mereka. Kita berhak milih kok siapa yang bisa kita jadiin teman, itu hak prerogatif kita.

Tapi balik lagi, sebelum benar-benar mutusin gak mau temenan sama mereka kenapa gak coba berusaha relate ke mereka. Put our feet in their shoes, try to look closer. Mungkin ada yang kita gak tahu tentang mereka. Mungkin mereka punya cara lain untuk bekerja. Kenapa sulit menerima perubahan kalau itu sama-sama baik? Buat gue percuma kalau kita punya sederet gelar di belakang nama kita tapi kita gagal buat komunikasi sama orang sekitar.

Satu hal yang sudah pasti sebaik-baik tempat curhat adalah Allah subhana hu wa ta’alaa. Habluminallah penting tapi jangan lupa habluminannas. Pelajaran IPS waktu SD yang paling gue ingat manusia adalah makhluk sosial. Jadi sebagai makhluk sosial bisa kali belajar ngobrol dengan baik sama orang. Treat them like how you want to be treated, bro!

Botih
Purwakarta, Dec 08 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s